Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Psikologi Perkembangan
PENDAHULUAN
Proses menua
(lansia)
adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis
maupun sosial yang saling ber interaksi
satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan
secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Seperti apa saja
masa lansia? Mari kita pelajari bersama dengan melampirkan sup bab dibawah ini.
II.
RUMUSAN MASALAH
A. Apa artinya usia lanjut ?
B.
Apa saja ciri-ciri usia lanjut?
C.
Bagaimana penyesuaian diri terhadap fisik bagi lansia?
D. Apa pengaruh di masa lansia terhadap
psikologi?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pngertian usia lanjut
Usia tua adalah periade penutupan
dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah
beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak
dari waktu yang penuh dengan manfaat. Bila seseorang yang sudah beranjak jauh
dari periode hidupnya yang terdahulu, ia sering melihat masa lalunya.[1]
Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang
ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang
semakin menurun.Proses menua (lansia) adalah proses alami yang disertai adanya
penuurunan
kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama
lain.
B. Ciri-ciri usia lanjut.
1. Usia lanjut merupakan periode
kemunduran
Seperti
yang telah di katakana berulang-ulang orang tidak pernah bersifat statis. Karna
itu orang sering berubah secara konstan. Selama bagian awal dari khidupan
perubahan itu bersifat evulusional dalam arti orang slalu menuju kepada
kedewasaan dan keberfungsian. Sebaliknya pada bagian selanjutnya, mereka tidak
evulusional lagi, yang mencabut reggresi kepada tahap awal. Perubahan-
perubahan ini sesuai dengan kodrat manusia yang pada umumnya terkenal dengan
istilah “menua” perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi struktu baik-fisik
maupun mentalnya dan keberfungsianya juga.
2. Usia tua di nilai dengan kreteria
yang berbeda.
Karna
usia tua tersendiri kabur dan tidak jelas dan tidak dapat di batasi pada ank
muda, maka oang cenderung menilai tua itu dalam hal penampilan dan kegiatan fisik. Bagi usia tua, anak-anak
adalah lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa dan harus dirawat, sedang
orang dewasa sudah besar dan dapat merawat diri sendiri. Orang tua mempunya
rambut putih dan tidak lama lagi berhenti dari pekerjaan sehari-hari.
3. Sikap social terhadap usia lanjut.
Pendapat
klise tentang usia lanjut mempunyai pengaruh yang besar tehadap sikap social
baik terhadap usia lanjut maupun terhdaporang berusia lanjut. Dan karna
pendapatnya klise tidak menyenangkan, maka sikap social tampaknya tidak
menyenangkan seperti yng telah di terangkan Bernet, “adalah sulit untuk
mengungkapkan usia lanjut atau sulit juga menyuguhka daya tarik seksual” dalam
kondisi demikian.
4. Menua membutuhkan perubahan peran.
Dalam
kebudayaan amaerika. Dimana efisiensi, kekuatn kecepatan dan kemenarikan bentuk
fisik sangat di hargai, mengakibatkan orang berusia lanjut sering di anggap
tidak ada gunaya lagi. Karna mereka tidak dapat bersaing dengan usia muda lagi
dalam berbagai bidang tertentu. Dimana kreteria nilai sangat di perlukan, dan
sikap social terhadap mereka tidak menyenangkan.
5. Keinginan menjadi muda lagi.
Setatus
kelompok minoritas yang di kenakan pada usia lanjut secara alami telah
membangkitkan keinginan untuk tetap muda selama mungkin dan ingin dim permuda
selama tanda-tanda menua tampak. Berbagai cara kuno, obat yang termanjur untuk
segala penyakit zat kimia tukang sihir dan ilmu ghaib di gunakan untuk mencapau
tujuan tersebut [2]
C. Penyesuaian fisik.
1. Perubahan penampilan.
Bischof
mengatakn bahwa menua “berarti peraliahan dari kacamata bifocal ke trifocal,
dan dari gigi palsu ke kematian” pendpat semacam ini menyarankan bahwa
kebanyakan tanda-tanda yang paling jelas dari usia lanjut adalah perubahan pada
wajah. Bahkan walaupun wanita menggunakan kosmetik untuk menutupi tanda-tanda
ketuaan tetepi selalu banyak aspek yang tidak dapat di tutupinya.misalnya
perubahan yang terjadi pada bagian bagian tubuh lainya.
2. Perubahan bagian dalam tubuh.
Walaupun
perubahan didalam tubuh (parubahan internal)
tidak dapat di amati seperti di bagian luar namun perubahan tersebut
juga jelas terjadi dan menyebar ke seluruh organ bagian dalam juga. Perubahan
yang terjadi kerangka tubuh (skeleton) di akibatkan dari mengerasnya
tulang-tulang. Menumpuknya garam mineral dan modifikasi pada susunan organ
tulang bagian dalam. Akibatnya tulang menggempur dan mudah retak. Atau patah.
Dan sembuhnyapun lambat sesuai dengan bertambahnya usia.
3. Perubahan panca indra.
Pada
uia lanjut fungsi seluruh organ pengindran kurang mempunyai sensitivitas dan
evisiensi kerja di bandingkan yang di miliki orang yang lebih muda.bagaimanapun
juga karna dalam banyak kasus perubahan indra berlangsung secara lambat dan
bertahap, maka setiap individu mempunyai kesempatan untuk melakukan penyesuaina
terhadap perubahan tesebut. Lebih lanjut pemakaian kacamata dan alat bantu
untuk mendengar hamper secara sempurna dapat mengatasi kerusakan indra melihat
atau kehilangan pendengaran.
D. Pengaruh psikologi.
Ada beberapa
faktor yang sangat berpengaruh terhadap psikologi lansia. Faktor-faktor
tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati
hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para
lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut:
1. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang
memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang
bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang,
enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh,
dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia
mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan
gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya
dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain.
2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan
fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan
berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung, gangguan metabolisme, misal
diabetes millitus, vaginitis, baru selesai operasi : misalnya prostatektomi,
kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat
kurang, penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan
steroid, tranquilizer.
3. Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya
setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan
psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman,
pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku
lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi
hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan,
koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya
penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek
psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa
perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia
sebagai berikut:
1.
Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction
personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan
mantap sampai sangat tua.
2.
Tipe Kepribadian Mandiri (Independent
personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan
otonomi pada dirinya.
3.
Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent
personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila
kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak,
tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan
menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4.
Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility
personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas
dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan
secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
5.
Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate
personalitiy), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena
perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah
dirinya.
4. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada umumnya
perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah
agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam
kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan
sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan
harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari
model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Bagaimana
menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia? Jawabannya
sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun.
Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang
memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah).
Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing
individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri
lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar
pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang
benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan
hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh.[3]
.
5. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Akibat
berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya
maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya
badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan
sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan
masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika
keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain
dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis,
mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek
dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.
Dalam
menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang memiliki
keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena
anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat
umumnya ikut membantu memelihara dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun
bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup
membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya
sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi
terlantar.
IV.
KESIMPULAN
Usia tua adalah periade penutupan dalam rentang hidup
seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari
periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan
manfaat. Bila seseorang yang sudah beranjak jauh dari periode hidupnya yang
terdahulu, ia sering melihat masa lalunya.
1).
Ciri-ciri usia lanjut.
a. Usia lanjut merupakan periode
kemunduran
b. Usia tua di nilai dengan kreteria
yang berbeda.
c. Sikap social terhadap usia lanjut
d. Menua membutuhkan perubahan peran.
e. Keinginan menjadi muda lagi.
2). Penyesuaian fisik.
a) Perubahan penampilan
b) Perubahan bagian dalam tubuh.
c) Perubahan panca indra.
3).
Pengaruh psikologi.
a. Penurunan
Kondisi Fisik.
b. Penurunan
Fungsi dan Potensi Seksual.
c. Perubahan Aspek Psikososial.
d. Perubahan yang
Berkaitan Dengan Pekerjaan.
e. Perubahan Dalam
Peran Sosial di Masyarakat
a.
PENUTUP
Demikianlah makalah psikologi
perkembangan mengenai masa lansia dapat bermanfaat bagi kita semua olehkarnyan semoga
jika nanti kita sudah mencapai masa tua ini kita lebih bisa berhati-hati dan
dapat mengambil pelajaran dari apa yang kita bahas pada hari ini amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Diane, papalia E dkk, human Developmen (psikologi perkembangan) Jakarta: kencana prenada mediaGrup. 2008
Hurlock,
Elisabet B, psikologi perkembangan, (edisi kelima), Jakarta:erlangga 1993
Psikologi Lansia | belajarpsikologi.com
Psikologi Lansia | belajarpsikologi.com
Dirasah Islamiyah
A. PENDAHULUAN
Setiap yang hidup pasti akan
mengalami kematian. Sebagai mana dualitas kehidupan yaitu kelahiran dan
kematian. Tentu kita selalu hidup dalam kedualitasan, ada panas dan dingin, ada
suka dan duka, ada gelap dan terang. Sama halnya dengan kehidupan, ia mempunyai
dualitas antara kelahiran dan kematian. Karena setiap yang dilahirkan maka
suatu saat pasti akan mengalami kematian.
Tidak terkecuali manusia, ia
dilahirkan dan tidak akan kekal hidup dimuka bumi ini karena setiap manusia
pasti akan dijemput maut, akan mati. Keabadian hanya milik Allah. Sejak manusia
pertama diciptakan, adam hingga manusia masa kini dan yang akan datang, setiap
yang hidup, setiap yang berjiwa pasti akan megalami berpisahnya badan dengan
jiwa, mati.
Kedatanganya pun tidak ada
yang tahu, kematian adalah murni rahasia Allah ketika Allah memerintahkan
malaikat izrail untuk menyabut nyawa seseorang maka pengetahuan manusia yang
paling modern pun tidak akan ada yang sanggup menghentikan langkahnya. Karena
persoalan ini telah ditentukan dan berada dalam kekuasaan Allah. Persoalan ini
betul-betul Allah sendiri yang menghendaki. Sebaliknya, manusia tidak bisa
menginginkan kehidupan segera berakhir. Tidak ada kekuatan dan pengetahuan,
selain dia yang mampu mempercepat atau memperlambat kematian.
Banyak cerita mengenai
kematian, diantaranya detik-detik jelang ajal menjemput ada yang menyatakan
bahwa orang yang akan meninggal dunia, terlebih dahulu mengalami kejan-kejang
dengan mata melotot. Setelah kejang-kejang berhenti berakhir pula hidupnya.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Dari beberapa latar belakang permasalahn yang telah
dipaparkan diatas, maka kita dapat mengambil beberapa poin permasalahan,
diantaranya:
1) Hakikat
kematian
2) Sakaratul
maut
3) Khusnul
khatimah
4) Su’ul
khatimah
C.
PEMBAHASAN
1)
HAKIKAT
KEMATIAN
Sebelum membahas kematian, sebaiknya kita perlu tegaskan lagi
mengenai pengertian kehidupan menurut Allah. Yang dimaksud kehidupan bukanlah
kehidupan didunia ini, tapi kehidupan diakhirat nanti. Itulah kehidupan yang
kekal. Mengapa kekal? Karena Allah menciptakan manusia ini memang untuk hidup
kekal.
Penentuan
sifat eternal(kekal) itu sudah diberikan Allah ketika manusia berada pada awal
kejadian, yakni ketika ruh ditiupkan dalam jasad manusia. Jadi, setiap manusia
yang lahir ke dunia ini hakikatnya akan hidup kekal, yakni hidup disurga atau
neraka. Termasuk anak kecil yang meninggal dalam usia dini, ia akan
dibangkitkan dan kekal hidup didalam surga, bahkan dia akan menuntun ke dua
orang tuanya masuk ke dalam surga.
Karena secara hakikat manusia itu bersifat eternal, maka ia
kan hidup didunia ini beberapa hari atau beberapa tahun saja. Selanjutnya ia
akan mati dan di bangkitkan kembali. Setelah masa kebangkitan inilah manusia
akan mengalami hidup kekal, yakni kehidupan akhirat. Pada saat itu nasib manusia
sangat di tentukan oleh amal dan perbuatanya(waktu didunia), apakah ia termasuk
orang taat atau membangkang terhadap ajaran-ajaran Allah. Jika taat (mukmin),
ia kan mendapatkan kehidupan penuh nikmat, sedangkan jika membangkang (kafir),
ia akan mendapatkan kehidupan penuh siksa dan kesengsaraan. Dalam surat Al
Ankabuut 64 bahwa sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau
mereka mengetahui. [1]
Ada orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya seluruh makhluk
pasti akan mengalami tekanan-tekanan sakaratul maut. Itu benar adanya. Tetapi,
dalam hal ini ada perbedaan dan pertimbangan –pertimbangan tertentu. Alllah
selaku satu-satunya zat yang tidak akan fana berhak untuk memberikan rasa
kematian yang berbeda-beda diantara seluruh makhluk-Nya, sesuai dengan
kedudukan dan derajat mereka. Sebagian ialah makhluk tingkat rendahan, baik
manusia maupun bukan manusia, dan sebagian lagi makhluk tingkat atas yang
selalu memperoleh keridhaan Allah. Semua pasti akan meneguk gelas kematian,
sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 185, “setiap yang bernyawa itu mengalami kematian.”[2]
Menurut Ibnu Qasi’, ada orang yang begitu gampang mengalami
kematian, yaitu ketika sedang tidur tiba-tiba nyawanya dicabut oleh sang
malaikat, seperti yang terjadi pada orang-orang saleh tertentu. Sangat boleh
jadi hal itu tidak dapat dijangkau oleh akal manusia sebab, katanya satu
sumbatan saja dalam kerongkongan sakitnya sudah melebihi ditebas pedang seribu
kali. Tetapi itulah rahasia kuasa Allah yang tidak mungkin dapat dikenali
secara mutlak.
Dalam
merasakan kematian, juga berbeda-beda antara satu golongan manusia dengan
manusia yang lain. Kematian yang dirasakan oleh golongan atau umat islam
berbeda dengan kematian yang dirasakn oleh selain umat islam. Dikalngan umat
islam sendiri perbedaan itu juga berlaku. Artinya, kematian yang dirasakan oleh
para nabi berbeda dengan kematian yang dirasakan oleh yang bukan nabi. Bahkan,
perbedaan dalam merasakan kematian tersebut juga berlaku dikalangan para nabi
sendiri, sesuai dengan derajat dan maqam mereka disisi Allah.[3]
2)
SAKARATUL
MAUT
Sudah disebutkan dalam
sebuah hadist dari jabir bin abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “janganlah
kamu mengharap-harap kematian, karena huru-hara kematian itu sangat dahsyat.”
Adalah saat yang pailing
menentukan: saat yang paling kritis bagi iman seseorang sebelum nyawa dicabut,
setan datang dan terus mengganggu. Ia
akan menggambarkan keindahan dunia agar manusia lupa kepada Allah.
Umar shahab menganalogikan
kondisi sakaratul maut dengan saat injury time dalam pertandingan sepak bola.
Dimana kalau sudah tiba saat injury time, lawan yang kalah memberikan
perlawanan dan penekanan yang bertubi-tubi. Bagaimana caranya bisa menggolkan
pada detik-detik terakhir. Setanpun seperti itu pada detik-detik terakhir dia
berjuang keras agar manusia lupa kepada Allah. Keadaan seperti ini disebut
‘adilah. Artinya, masa transisi dari kehidupan dunia ke kehidupan akhirat
nanti.[4]
Ketahuilah, sesungguhnya
kepedihan luar biasa yang dirasakan dalam sakaratul maut tidak ada yang
mengetahuinya, kecuali oleh orang yang merasakannya. Bagi orang yang belum
pernah merasakannya, ia hanya tahu dari menyamakan atau membandingkan dengan
kepedihan-kepedihan yang pernah dirasakannya atau dengan membandingkannya
dengan keadaan-keadaan orang mati ketika ia menyaksikan. Tentang upaya
menyamakan tadi, hanya dengan meyakini bahwa diantara penderitaan-penderitaan
yang dialami oleh roh=roh itu hanya sebagian kecil saja. Padahal kematian itu
sebuah kepedihan yang menimpa roh dan kedaasyatannya sangat terasa diseluruh
anggota tubuh. Sungguh, itu adalah kepedihan yang luar biasa. Coba engkau lihat
api ketika membakar tubuh. Tentu sakitnya luar biasa, karena rasa sakit
tersebut juga dirasakan oleh bagian-bagian roh. Jika teriakan dan suaranya
terputus, itu disebabkan terlalu pedihnya. Sebab, rasa sakit telah naik ke
hatinya dan dirasakan oleh seluruh anggota tubuhnya. Akibatnya, seluruh
kekuatan dan setiap anggota tubuh menjadi lemah tak berdaya. Bahkan kekuatan
untuk meminta tolonng pun menjadi sirna.
Akal seseorang di sumbat
serta digoyahkan oleh sakaratul maut, lidah dibungkamnya dan kaki serta tangan
dilumpuhkannya. Ia berharap sekiranya dapat beristirahat barang sekejap untuk
bisa mengaduh, menjerit dan meminta pertolongan. Tetapi, semua itu tidak bisa
ia lakukan. Kalau saja masih ada sia-sia kekuatan yang dimilikinya, maka itu
hanya kekuatan mendengkur didalam tenggorokan dan dadanya. Warna mukanya telah
berubah pucat pasi dan menjadi kelabu, hingga seakan-akan seperti warna tanah
yang merupakan asal fitrahnya.[5]
Selanjutnya nyawa dicabut
dari setiap uratnya. Lalu setiap anggota tubuhnya satu demi satu mengalami kematian secara
berangsur-angsur. Mula-mula sepasang kakinya menjadi dingin, lalu betisnya,
kemudian pahanya. Setiap anggota merasakan sakit yang luar biasa. Dan
penyesalan hanya sampai ditenggorokan. Pada saat itu terputuslah pandangannya
dari dunia berikut penghuninya. Lalu pintu taubat pun tertutup di depannya.
Nabi saw, bersabda, “Taubat seorang hamba masih diterima sebelum nyawa sampai
tenggorokan”.[6]
3)
KHUSNUL KHATIMAH
Sungguh beruntung mereka yang rajin
tahajud . Allah sang kekasih tercinta siap mengajaknya berkelana menuju lorong
– lorong cinta nan menggairahkan , dan menyiapkan kamar
surga untuknya.dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh hr.hakim:
“Duhai
manusia , beri makan orang lain ,sebarkan salam ,pelihara hubungan keluarga ,
dan solatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur , niscaya kalian masuk
surga .”
{HR.
Hakim}
Dalam ajaran islam , setiap ritual memiliki
dimensi sosial ; itulah sebabnya , kesalehan ritual seharusnya berdampak kepada
terwujutnya kesalehan sosial seperti disabdakan kanjeng nabi di atas , terdapat
anjuran – anjuran yang saling terkait : memberi makan orang lain , menyebarkan
salam , memelihara hubungan dan tahajud .
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk
untuk membangun solideritas sosial; salah satu bentuknya adalah memberi makan .
memberi makan tidak saja bermakna memberi sesuap nasi, tetapi juga dalam bentuk
lain . Misalnya , makanan untuk orang bodoh adalah ilmu pengetahuan ; umat
islam bisa memberinya buku untuk di baca , meluaskan kesempatan untuk belajar
melalui pendidikan formal dan non formal , dan sebagainya . Dengan makanan ilmu
pengetahuan itu umat islam telah membangun kepedulian kepada sesama sehingga
menjadi berdaya , dan mampu berkarya pula .dalam sebuah
hadist yang diriwayatkan oleh imam tirmidzi:
“Sebaik
– baik manusia adalah yang panjang umurnya serta baik pula amal
perbuatanya.”{HR. Tirmidzi}.
Dimensi sosial lain yang di serukan
adalah menyebarkan salam , maknanya adalah perdamaian . mereka yang saban hari
berucap salam tapi dalam hidupnya menebar kebencian dan dendam , berarti belum
menyelami kandungan makna salam , juga inti ajaran islam itu sendiri . perdamaian
tidak semata berbentuk ‘tidak berperang’ tetapi juga bisa di tunjukkan melalui
bentuk kerja sama dan gotong royong sosial ;perdamaian tidak melulu hanya
diserukan layaknya slogan , tetapi telah melampau dataran wacana menuju aksi
nyata yakni kebersamaan untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul . itulah
sebabnya , mengapa kanjeng nabi meminta umatnya untuk menjaga hubungan dengan
sesama : jangan ada dusta dan kebencian diantara kita ! Sekedar
tersenyum saat berjumpa dengan sesama pun sudah dianggap sedekah dengan
ganjaran melimpah .ada sebuah hadist yaitu:
“Senyum
mu kepada saudaramu adalah sedekah . kamu menyuruh berbuat makruf ,dan mencegah
yang mungkar adalah sedekah .Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga
sedekah dan menyingkirkan batu atau duri dan tulang di jalan adalah sedekah
.”{Al-Hadis}.
Ditengah itu semua ,tahajud akan
mendanpingi langkah hidup kita menuju kecerdasan sosial ; dengan tahajut kita
dapat berfikir bahwa esok hari kita akan hidup berdanpingan dengan tetangga ,
teman kerja , juga sobat sepermainan . Mereka tidak hanya sewarna
latarbelakangnya dengan kita tetapi dari beragam corak . Lewat tahajut kita
akan berfikir bahwa kehidupan sosial kian indah bila keragaman dijaga dan
dikelola , bukan dimanipulasi untuk kepentingan seglintir manusia . Tahajudjuga
akan mengawal kita untuk lebih peduli kepada penderitaan sesama ; Kemiskinan
dan kebodohan adalah penderitaan paling akut dalam kehidupan masyarakat kita
saat ini . Mereka yang rajin tahajut , akan menghadirkan dalam dirinya tekat
untuk mengabdi kemasyarakat dengan cara merintis berbagai kemungkinan jalan
keluar mengatasi kemiskinan dan kebodohan itu.
4) SU’UL
KHATIMAH
Diriwayatkan
oleh Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “ sesungguhnya ada
seseorang yang cukup lama melakukan amalan penduduk surga. Tetapi, ia
mengakhiri amalanya dengan amalan penduduk neraka. Dan, sesungguhnya ada
seseorang yang cukup lama melakukan amalan penduduk neraka. Tetapi, ia
mengakhiri amalnya dengan amalan penduduk surga.”[7]
Disebut
dalam Shahih Bukhori sebuah hadist
bersumber dari Sahal bin Sa’ad bahwa Nabi saw bersabda, “ Sesungguhnya ada seorang hamba yang selalu melakukan amalan penduduk
neraka, tetapi kemudian ia termasuk penduduk surga. Dan, ada seorang hamba yang
selalu melakukan amalan penduduk surga, tetapi kemudian ia termasuk penduduk
neraka, karena amalan itu diperhitungkan pada bagian akhirnya.”
Abu
mMuhammad alias Abdul Haq berkata,” Ketahuilah sesungguhnya su’ul khatimah
(akhir kehidupan yang buruk) itu tidak akan menimpa orang yang bersikap
istiqomah lahir batin. Hal itu sama
sekali tidak pernah terdengar. Tetapi, su’ul khatimah menimpa orang yang
akalnya rusak,atau orang yang terus-menerus melakukan dosa-dosa besar sehingga
keburu meninggal dunia sebelum bertobat. Atau menimpa orang yang semula
bersikap istiqomah, tetapi kemudian berubah menyimpang dari jalannya yang lurus
tersebut karena memilih jalan lain yang sesat. Sehingga, hal itulah yang
menyebabkan ia bernasib buruk pada bagian akhir hidupnya, misal iblis. Menurud
sebuah riwayat, selama delapan puluh ribu tahun ia selalu tekun menyembah
Allah. Atau seperti Bal’am bin Ba’ura yang dikarunia pengetahuan terhadap
ayat-ayat Allah, ia malah meninggalkan dan lebih memilih menuruti keinginan
hawa nafsunya. Atau seperti Barshisa, seorang yang rajin beribadah yang
disinggung dalam firman allah,” Bujukan
orang-orang munafik itu adalah)seperti(bujukan) setan ketika dia berkata kepada
manusia,’kafirlah’.” (al-Hasyr: 16)[8]
Dalam
hadist riwayat Ahmad dan Ibnu Syaibah, Aisyah r.a berkata, “Nabi sering berdoa
dengan mengatakan, ‘wahai Tuhan yang
membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku
pernah bertanya,’Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang
merasakan ketakutan?’ beliau menjawab,’tidak
ada yang membuat aku merasa aman, hai Aisyah,. Hati seluruh hamba ini berada
diantara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang
hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.”
Kata
para ulama sepanjang yang memberikan hidayah atau petunjuk adalah Allah,
sepanjang sikap istiqomah itu tergantung pada Allah, sepanjang akibat yang
terjadi tidak ada yang sanggup mengetahui selain Allah, dan sepanjang keinginan
Allah adalah segalanya, maka kamu jangan keburu mengagumi imanmu, shalatmu,
puasamu, amal-amalmu yang lain, dan seluruh pengorbananmu. Kendati pun secara
lahiriyah itu adalah hasil jerih payahmu, tetapi pada hakikatnya Tuhanmulah
yang menciptakannya. Dengan kata lain, kamu bisa melakukan itu semata-mata
karena karunia-Nya.[9]
Kalu
kamu merasa bangga dengan semua itu, kamu tak ubahnya seperti seorang yang mersa bangga atas barang milik orang lain, bukan milikmu
sendiri. Akibatnya hatimu kembali menjadi kosong dari kebajikan seperti perut
seekor unta yang sedang kelaparan. Seringkali terjadi sebuah taman yang pada
senja hari bunga-bunganya bermekaran, tetapi esok harinya semua menjadi layu
dan hancur berantakan karena disapu oleh angin yang kencang. Demikian pula pada
seorang hamba yang pada sore hari hatinya berseri-seri memancarkan cahaya
ketaatan kepada Allah, namun pada esok harinya menjadi sakit dan murung karena
durhaka kepada Allah. Itu adalah tindakan Allah yang Maha Perkasa, Maha Bijak,
Maha Mencipta dan Maha Mengetahui.[10]
KESIMPULAN
Semua pasti akan meneguk
gelas kematian, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali imran ayat 185, “setiap yang bernyawa itu akan merasakan
kematian.” Dalam merasakan kematian, juga berbeda-beda antara satu golongan
manusia dengan manusia yang lain.
Akal seseorang disumbat
serta digoyahkan leh sakaratul maut, lidah di bungkamnya dan kai maupun tangan
dilumpuhkanya. Ia berharap sekiranya dapat beristirahat barang sekejap untuk
mengaduh, menjerit dan meminta pertolongan. Tetapi, semua itu tidak bisa ia
lakukan.
Lalu setiap anggota tubuhnya
satu demi satu mengalami kematian secara berangsur-angsur. Mula-mula sepasang
kakinya menjadi dingin, lalu betisnya, kemudian pahanya.
Setiap anggota Tetapi, su’ul khatimah menimpa orang yang akalnya rusak,atau orang
yang terus-menerus melakukan dosa-dosa besar sehingga keburu meninggal dunia
sebelum bertobat. merasakan sakit yang luar biasa.
DAFTAR PUSTAKA
v Al-Qurthuby,Iman,2009, Rahasia Kematian, Alam Akhirat, dan Kiamat,
jakarta : Akbar Media Eka Sarana
v Al-Ghozali,
Al-imam,2008,Ringkasan Ihya’ Ulumuddin,Jakarta
Timur: Akbar Media
v Musfah,
Jejen,2004,Rindu Kematian, Jakarta
Selatan: Penerbit HIkmah
[1] Prof. Dr. M. Mutawalli asy sya’rawi.
Al hayatu wal maut. gema insani press. Jakarta:1996
[2] Imam al-qurtubi. Rahasia kematian, alam
akhirat & kiamat. Akbar media eka sarana. Jakarta:2009. Hal.26
[3] Ibid.hal.27
[4] Jejen mushaf. Rindu kematian.
PT.mizan publika:jakarta. Hal 127
[5] Imam al-ghazali. Ringkasan ihya’
‘ulumuddin. Akbar media eka sarana:jakarta. Hal 439
[6] Hadist riwayat ibnu majah
[7] Imam al-qurtubi. Rahasia
kematian, alam akhirat & kiamat. Akbar media eka sarana:jakarta. Hal 82
[8] Imam al-qurtubi. Rahasia
kematian, alam akhirat & kiamat. Akbar media eka sarana:jakarta. Hal 83
[9] Imam al-qurtubi. Rahasia
kematian, alam akhirat & kiamat. Akbar media eka sarana:jakarta. Hal 84
[10] Imam al-qurtubi. Rahasia
kematian, alam akhirat & kiamat. Akbar media eka sarana:jakarta. Hal 85
